Beberapa Hal yang Tidak Pernah Kubicarakan

Nama : Muhammad Sajidan Firdaus
Kelompok : 07 Medulla

Di awal cerita ini saya ingin menjelaskan bahwa tulisan ini berisi satu permasalahan yang pernah saya hadapi, kemudian dilanjutkan dengan identifikasi penyebab masalah tersebut, dan ditutup dengan tiga cara yang saya gunakan untuk mengatasinya. Semuanya saya rangkai dalam bentuk cerita pendek agar tetap mengalir dan dekat dengan pengalaman saya sendiri.

Saya pernah berada dalam masa ketika kebiasaan datang terlambat menjadi jejak panjang yang terus mengikuti langkah saya. Hampir setiap kegiatan dimulai tanpa saya, seolah jam di pergelangan tangan saya berjalan dengan ritme yang berbeda dari dunia. Tidak ada ledakan besar yang membuatnya terasa dramatis. Hanya rangkaian kecil dari pilihan yang salah, pengulangan yang akhirnya berubah menjadi kebiasaan.

Suatu pagi saya masuk ruang kelas dengan langkah pelan. Semua orang sudah duduk dengan catatan yang terbuka dan wajah yang siap bekerja. Saya berusaha menutup pintu dengan tenang tetapi tetap saja terdengar jelas. Ketua rapat menatap saya singkat, tidak marah tetapi cukup untuk membuat dada saya terasa sesak. Saat berjalan pulang setelah kegiatan berakhir saya mulai bertanya apakah saya benar sudah terbiasa hidup begini atau sebenarnya saya hanya menolak melihat bahwa kebiasaan itu sudah mulai menyulitkan banyak hal.

Hal itu mencapai puncak ketika saya berjanji bertemu seseorang yang sangat berarti bagi saya. Dia bukan orang yang menuntut banyak. Bahkan kalau saya terlambat, dia jarang menunjukkan keluhan. Tetapi hari itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Dia duduk di bangku kampus. Ketika saya tiba, dia tersenyum seperti biasa. Namun saya tahu senyum itu lebih tipis daripada hari-hari sebelumnya. Dalam detik yang senyap itu saya sadar bahwa kebiasaan saya bukan hanya tentang waktu yang terlambat. Itu tentang menghargai atau tidak menghargai seseorang yang saya pedulikan.

Di titik itu saya mencoba jujur pada diri saya dan mulai mengidentifikasi apa saja yang menyebabkan masalah ini terus berulang. Pertama saya terlalu sering memperlakukan waktu seperti benda lentur yang bisa ditekuk sesuka hati. Lima menit saya anggap sama dengan dua menit. Dua menit saya anggap sama sekali tidak penting. Akhirnya hitungan yang salah itu menumpuk dan menggeser segalanya. Kedua saya sering menunda hal kecil yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat. Memilih pakaian, mengemas buku, mencari barang yang entah kenapa selalu hilang di kamar sendiri. Semua itu terlihat sepele tetapi justru paling banyak memakan waktu. Ketiga saya selalu menunggu datangnya semangat. Saya mengira perubahan hanya berjalan ketika saya sedang termotivasi padahal disiplin tidak memerlukan suasana hati tertentu.

Setelah memahami sumber masalahnya saya mulai memilih tiga cara yang paling sesuai untuk saya gunakan. Saya tidak meniru metode orang lain. Saya hanya mencari langkah yang bisa bertahan lama di rutinitas saya sendiri. Cara pertama adalah menetapkan waktu tiba yang lebih awal dari jadwal. Jika kegiatan dimulai pukul sembilan saya wajib tiba setengah jam sebelumnya. Dengan begitu saya memberi ruang bagi hal tak terduga. Cara kedua adalah menyiapkan kebutuhan sejak malam sebelumnya. Pakaian untuk esok hari sudah digantung. Tas sudah berisi buku dan barang penting. Tidak ada lagi momen terburu yang membuat saya berputar mencari sesuatu di menit terakhir. Cara ketiga adalah membuat pengingat sederhana di tempat yang sering saya lihat. Saya menempelkan catatan di meja belajar berisi kalimat pendek yang mengingatkan saya bahwa perubahan ini saya lakukan karena saya ingin menjaga hal yang penting.

Perubahan berjalan perlahan. Ada hari ketika saya hampir kembali pada kebiasaan lama. Ada hari ketika saya tepat waktu dan merasa bangga pada diri sendiri. Namun semakin lama saya merasakan bahwa langkah saya mulai tiba lebih awal dari pintu rapat yang belum dibuka. Saya mulai hadir sebelum kelas dimulai. Saya mulai sampai sebelum seseorang menunggu terlalu lama. Rasa lega itu tumbuh pelan seperti cahaya pagi yang masuk lewat jendela.

Ketika akhirnya saya bertemu lagi dengan orang yang menjadi salah satu alasan saya berubah, dia tidak menyinggung masa lalu. Tetapi saya melihat sesuatu di matanya. Semacam keyakinan bahwa saya benar belajar menjadi lebih baik. Di momen itu saya menyadari bahwa perubahan bukan tentang menjadi sempurna. Perubahan adalah proses menjaga apa yang penting agar tidak hilang oleh kebiasaan buruk yang sebenarnya bisa saya kendalikan.

Cerita ini menunjukkan satu masalah yang saya hadapi, penyebabnya, serta tiga cara yang saya gunakan untuk memperbaikinya. Pada akhirnya saya belajar bahwa menjadi tepat waktu bukan hanya soal kedisiplinan. Itu juga tentang menghormati diri sendiri dan orang yang ingin saya jaga di hidup saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume : NU Akan Segera Miliki Universitas di Surabaya

My Digital Portfolio - Hari Pertama PKKMB Unusa 2025